Kamis, 01 Februari 2018

Model dan Evaluasi pembelajaran sains

MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS

        Sasaran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang digalakkan pemerintah di bidang pendidikan adalah tercapainya kemampuan nasional dalam pemanfaatan pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan peradaban serta ketangguhan dan daya saing bangsa. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus ditunjang oleh kemampuan pemanfaatan pengembangan dan penunjangan berbagai teknik produksi, teknologi, ilmu pengetahuan terapan dan ilmu pengetahuan dasar secara seimbang, dinamis, dan efektif untuk mencapai kesejahteraan bangsa.
                        Agar pembelajaran dapat dilakukan dibutuhkan pendekatan pembelajaran. Salah satunya adalah pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dan Pembelajaran kolaboratif yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang bekesinambungan antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran

1.  Pendekatan  Pembelajaran kontekstual
    Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling),dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Pendekatan kontekstual memungkinkan para siswa untuk memperkuat mengembangkan dan menerapkan pengetaun akademik secara keterampilan mereka pada berbagai lingkungan sekolah maupun luar lingkungan sekolah. Menurut Clifford dan Wilson (2000), manfaat efektif dari pendekatan kontekstual adalah  menekankan pada penanganan masalah, memahami kebutuhan pembelajaran dalam berbagai konteks, mengajar sisiwa menjadi mandiri, mendasarkan pembelajaran pada konteks kehiduppan siswa yang beragam, medorong siswa untuk belajar dari teman-temannya dalam kelompok, serta menerapkan penilaian autentik.
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
A.  PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS
          Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
• Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
• Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
• kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
• Ciptakan masyarakat belajar.
• Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
• Lakukan refleksi di akhir pertemuan
• Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

B. TUJUH KOMPONEN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

1. Konstruktivisme
       Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong, Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalm pross belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.
Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis ‘strategi memperoleh’ lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
a). Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
b). Memberi kesenpatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
c). Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Dalam komponen Pembelajaran Kontekstual (CTL). Hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a). Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan   awal
b). Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
c). Siswa belajar sedikit-demi sedikit dari konteks terbatas.
d). Siswa mengkonstruk sendiri pemahamannya.
2.  Inquiry
            Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajran berbasis CTL. Pengetahuan dan ketrempailan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkanya.
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri):
a). Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
b). Mengamati atau melakukan observasi
c). Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainya
d). Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.
e). Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
f). Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
g). Siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori, baik perorangan maupun kelompok.
h). Diawali dengan pengamatan, lalu berkembang untuk memahami konsep/fenomena.
i). Mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis.
3. Questioning
        Pengetahuan yang dimiliki seseorang bermula dari ‘bertanya’. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya daalm pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
a). Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
b). Mengecek pemahaman siswa
c). Membangkitkan respon kepada siswa
d). Mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa
e). Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
f). Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
g). Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
h). Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Bagi Guru
· Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
· Menuntun siswa berpikir,
· Mengecek pemahaman siswa,
· Membangkitkan respon siswa.
Bagi Siswa
· Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
· Menggali informasi,
· Menghubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki,
 · Memecahkan masalah yang dihadapi.

4.  Learning Community
            Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ‘Sharing’ antara teman, antar kelompok dan antara yang tahu dan yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana adalah anggota masyarakat belajar.
Praktek masyarakat belajar dalam pembelajaran terwujud dalam:
a). Pembentukan kelompok kecil
b). Pembentukan kelompok besar
c). Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (tokoh olahragawan, dokter perawat, polisi, dsb)
d). Bekerja dengan kelas sederajat
e). Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
f). Bekerja dengan masyarakat
g). Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
h). Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
i). Tukar pengalaman
j). Berbagi ide
k). Berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain.
l). Ada kerjasama untuk memecahkan masalah.
m). Hasil pembelajaran secara kelompok akan lebih baik daripada belajar sendiri.
n). Ada fasilitator/guru yang memandu proses belajar dalam kelompok.

5.  Modeling
Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.
Pemodelan maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa di tiru. Model itu bias berupa cara mengoperasikan sesuatu, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dalam pembelajaran CTL guru bukan satu-satunya model. Model dapat di rancang dengan melibatkan siswa.
Modeling atau Permodelan:
a). Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
b). Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
c). Membahasakan gagasan yang Anda pikirkan.
d). Mendemonstrasikan bagaimana Anda menginginkan para siswa untuk belajar.
e). Melakukan apa yang Anda inginkan agar siswa melakukan.
f). Guru bukan satu-satunya contoh bagi siswa.
g). Model berupa orang, benda, perilaku, dll.
6. Reflection
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
Refleksi cara berpikir tentang apa yang baru di pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru di pelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakn respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima.
Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu siswa akan memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang dipelajarinya. Kunci dari semua itu adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap ke benak siswa.
a). Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
b). Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
c). Menelaah dan merespon terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman.
d). Mencatat apa yang telah kita pelajari, bagaimana kita merasakan ide-ide baru.

7.  Authentic Assessment
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil
Assesment merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian, bukanlah untuk mencari informasi tenteng belajar siswa. Pembelajaran yang benar sudah seharusnya ditekankan oada uoaya memebantu siswa agar mampu mempelajari, bukan di tekankan pada diperolehnya sebanyak-banyak mungkin informasi di akhir pembelajaran. Data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang diperoleh siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik penilaian yang sebenarnya:
a). Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
b). Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
c). Yang di ukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
d). Berkesinambungan
e). Terintegrasi
f). Dapat digunakan sebagai feed back
Authentic Assessment atau Penilaian sebenarnya, yaitu :
a). Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
b). Penilaian produk (kinerja)
c). Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
d). Menilai dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber.
e). Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
     f). Mempersyaratkan penerapan pengetahuan dan keterampilan.
Pada pembelajaran kelas kontekstual guru dituntut untuk menghidupkan kelas dengan cara mengembangkan pemikiran anak agar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

C. APLIKASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI
Dalam konteks lain  pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Dengan demikian pembelajaran kontekstual dapat digunakan jika kita ingin menjadikan Meaningfull Learning, pembelaaran penuh makna bagi peserta didik kita
        Biologi merupakan cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dalam mempelajari Biologi hendaknya menggunakan strategi dan metode yang tepat agar siswa mampu memahami konsep-konsep Biologi. Dalam pembelajaran Biologi hendaknya dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang guru agar memantapkan berbagai konsep IPA (Biologi) anak didik. Mata pelajaran Biologi dapat membosankan dan menjenuhkan karena lebih banyak menggunakan istilah-istilah Latin yang kurang dipahami dan dimengerti oleh siswa. Dewasa ini muncul berbagai pendekatan pembelajaran sebagai alternatif dalam pemecahan masalah kesulitan belajar.
           Pembelajaran kontekstual (CTL) dijadikan alternatif yang dapat memberdayakan siswa. Pembelajaran dengan menerapkan strategi kontekstual kelas dapat berfungsi sebagai tempat mendiskusikan hasil penemuan di lapangan. Pendekatan kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
         Proses Pembelajaran kontekstual (CTL) dapat berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi dan proses pembelajaran ini lebih dipentingkan dari pada hasil.
Pada pelaksanaaan di lapangan guru  dituntut kreatif untuk memilih pembelajaran yang dapat lebih bermanfaat bagi siswa untuk mepenarapnn sepanjang hidupnya. Sebagai contoh riil dalam biologi, misalnya dalam pembelajaran sistem respirasi (pernafasan) yang biasanya digunakan menggunakan respirometer dengan belalang sebagai organisme yang diuji, ini memang dapat memenuhi tujuan yang hendak dicapai tentang gas/udara yang terlibat dalam resprasi, namun akan lebih terkait dengan  pada pribadi siswa itu jika kita memilih pembuktian ini dengan menggunakan udara ekspirasi yang dihembuskan siswa sendiri
Alat dan bahan untuk percobaan ini pun sangat sederhana, dapat menggunakan larutan air kapur yang ditampung pada botol bekas kemasan air mineral, plus sedotan untuk mengalirkan udara pernafasan yang dihembuskan lewat mulut. Prisnsip dari percobaan ini adalah reaksi pengendapan kalsium hidroksida (pada air kapur) dengan karbon dioksida dari udara ekspirasi, membentuk endapaan kalsium karbonat yang membentuk endapan putih di dasar botol. Jika ada fenol ftalien, (pp), dapat digunakan sebagai indikator, yang dengan air kapur akan berwarna merah, dan  seiring dengan dihembuskannya karbondioksida melalui sedotan minuman ke dalam larutan, kalsium hidroksida akan berubah menjadi kalsium karbonat dan warna larutan berangsur menjadi jernih sendiri
Contoh lain masih dari sistem respirasi, misalnya mendeskripsikan jenis udara respirasi dapat dilakukan dengan meniup balon (enjoy learning), sekuat kuatnya setelah menarik nafas se dalam dalamnya yang dikenal sebagai kapasitas vital paru. Aktivitas ini akan menyenangkan dan lebih bermakna ketika kita lanjutkan dengan melakukan skoring dengan jalan mengurutkan besarnya balon dari besar ke kecil dengan skor yang tertentu, sebagai misal ada 10 orang, maka yaang paling besar dengan skor 10 dan yang paling kecil 1
            Penskoran ini menjadi lebih bermakna lagi jika kita lakukan perbandingan/komparasi misalnya kelompok gemuk dengan yang kurus, perokok dengan bukan perokok, aktif olah raga dengan yang malas berolah raga dan sebagaainya. Aktivitas ini akan memberikan makna yang dapat diambil hikmahnya bagi kehidupaan peserta didik. Hasil komparasi yang CVP perokok dan bukan perokok misalnya, dapat dijadikan kampanye anti rokok. Jika hasilnya tidak sesuai dengan dasar teori yang ada, maka peserta didik dilatih untuk memberikan kemungkinan-kemungkinannya
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
1). Kelebihan CTL (Contextual Teaching and Learning)
a). Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b). Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.


2). Kelemahan CTL (Contextual Teaching and Learning)
a). Guru lebih intensif dalam membimbing karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide – ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi – strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
2.  Pendekatan  Pembelajaran kolaboratif
Selain dari sudut pandang Pembelajaran Kontekstual, ada juga dari sudut pandang pembelajaran Kolaboratif. Di mana dalam pembelajaran ini juga hampir sama dengan pembelajaran Kontekstual tetapi pembelajaran ini lebih menekankan pada siswanya sendiri untuk menilai proses pembelajarannya sendiri dan dapat mengembangkan pembelajaran bersama. Dari pengertian umum tersebut dapat direkonstruksi unsur-unsur pembelajaran kolaboratif sebagai berikut: suatu filsafat pengajaran, bukan serangkaian teknik untuk mengurangi tugas guru dan mengalihkan tugas-tugasnya kepada para siswa. Hal terakhir ini perlu ditekankan karena mungkin begitulah kesan banyak orang tentang pembelajaran kolaboratif.
A.    PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Pembelajaran kolaboratif dapat didefinisikan sebagai filsafat pembelajaran yang memudahkan para siswa bekerjasama, saling membina, belajar dan berubah bersama, serta maju bersama pula. Inilah filsafat yang dibutuhkan dunia global saat ini. Bila orang-orang yang berbeda dapat belajar untuk bekerjasama di dalam kelas, di kemudian hari mereka lebih dapat diharapkan untuk menjadi warganegara yang lebih baik bagi bangsa dan negaranya, bahkan bagi seluruh dunia. Akan lebih mudah bagi mereka untuk berinteraksi secara positif dengan orang-orang yang berbeda pola pikirnya, bukan hanya dalam skala lokal, melainkan juga dalam skala nasional bahkan mondial.
Model pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu model “Student-Centered Learning” (SLC). Pada model ini, peserta belajar dituntut untuk berperan secara aktif dalam bentuk belajar bersama atau berkelompok.
Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama. Pengertian kolaborasi sendiri yaitu:
1.    Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam bagian satu tim, dan bercampur dalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
2.    Patel berpendapat bahwa kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam mencoba untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and rewards.
3.    Duin, Jorn, DeBower, dan Johnson mendefinisikan “collaboration” sebagai suatu proses di mana dua orang atau lebih merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kegiatan bersama.
Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian pembelajaran kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil ke arah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan. Pendapat lain mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai filsafat pembelajaran yang memudahkan para siswa bekerja sama, saling membina, belajar dan berubah bersama, serta maju bersama pula. Dalam situsWikipediacollaborative learning atau pembelajaran kolaboratif diartikan sebagaisituasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama.
Schrage menyatakan  pembelajaran kolaboratif melebihi aktivitas bekerjasama (kooperatif) kerana ia melibatkan kerjasama hasil penemuan dan hasil yang didapatkan daripada sekedar pembelajaran baru. Menurut Jonassen, seperti halnya pembelajaran kooperatif, pembelajaran kolaboratif juga dapat membantu siswa membina pengetahuan yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan pembelajaran secara individu. Inti pembelajaran kolaboratif adalah bahwa para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Antaranggota kelompok saling belajar dan membelajarkan untuk mencapai tujuan bersama. Keberhasilan kelompok adalah keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.
B.  Lima tahapan menggembangkan collaborative learning 
1.      Engagement
Pada tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan, minat, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, siswa dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai, siswa sedang, dan siswa yang rendah prestasinya.
2.      Exploration
Setelah dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas, misalnya dengan memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kelompok harus berusaha untuk menyumbangkan kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun gagasannya.
3.      Transformation
Dari perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu setiap anggota saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa yang semula mempunyai prestasi rendah, lama kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi kepada siswa yang prestasinya rendah.
4.      Presentation
Setelah selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu kelompok melakukan presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
5.      Reflection
Setelah selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok. Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota kelompok harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
Brandt (2004) menekankan adanya lima elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
1.            Possitive interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama dan mereka peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.
2.      Verbal, face to face interaction (interaksi langsung antarsiswa)
Yaitu hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan, berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3.      Individual accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar dalam suatu
kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
4.      Social skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Siswa harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi, kepercayaan, membangun dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5.      Group processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan secara bersama dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik. Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah.
C.       Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1.      The two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2.      The small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
3.      Small or large group (recitation)
Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.

D.  Macam-Macam Pembelajaran Kolaboratif
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu :

1.    Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2.      Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3.    Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4.    Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5.  Jigsaw Procedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6.    Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7.    Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8.    Team Accelerated Instruction
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9.    Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee.Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tuteebenar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10.     Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan Team Accelerated Instruction. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis, dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.

E.  Langkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif
Dalam menerapkan pembelajaran kolaboratif, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran kolaboratif sebagai berikut:
1.    Mengajar keterampilan kerja sama, mempraktikkan, dan balikan diberikan dalam hal seberapa baik keterampilan-keterampilan digunakan.
2.    Kegiatan kelas ditingkatkan untuk melaksanakan kelompok yang kohesif.
3.    Setiap individu diberi tanggung jawab untuk kegiatan belajar dan perilaku masing-masing.
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif :
1.    Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2.    Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3.    Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4.    Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5.    Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6.    Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7.    Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8.    Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
F.  Pembelajaran Kolaboratif di Kelas
Salah satu contoh strategi pembelajaran kolaboratif adalah card sort.  Strategi ini digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang obyek, atau mengulangi informasi.  Strategi ini menguras banyak energi, sehingga tidak disarankan digunakan ketika siswa dalam kondisi letih.  Prosedurnya adalah sebagai berikut:
1.    Berilah siswa kartu indeks yang memberikan informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2.    Mintalah siswa untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
3.    Biarkan siswa yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada yang lainnya.
4.    Selagi masing-masing katagori dipresentasikan, buatlah point dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

G. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kolaboratif
1)    Kelebihan
a.    Siswa belajar bermusyawarah
b.    Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c.    Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d.   Dapat memupuk rasa kerja sama
e.    Adanya persaingan yang sehat

2)    Kelemahan
a.    Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b.    Membutuhkan waktu cukup banyak.
c.    Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
d.   Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai 

Dari artikel diatas ada beberapa pertanyaan yang mau saya ajukan yaitu:
1.Pada pembelajaran kontekstual apakah termasuk kedalam pembelajaran bermakna dalam menerapkan suatu konsep pada peserta didik?
2. Pada pembelajaran kolaboratif metode yang paling tepat untuk digunakan dalam pembelajaran biologi adalah?
3. Bagaimana menerapkan gabungan pendekatan kontekstual dengan pendekatan kolaboratif?




DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan.2011.http;//kurniawanbudi04.wordpress.com.Model Kolaborasi.01 Februari 2018. 09.00 WIB

Khairul.2010.khairulanwar 303.blogspot.com.Kuliah: Pembelajaran Kolaboratif.01 Februari 2018. 10.00 WIB

http://www.kompasiana.com. 2014.Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Biologi. 31 Januari 2018. 15.00 WIB

Elfisuir.2010.Elfisuir.blogspot.com.Pembelajaran Kontekstual Biologi. 31 Januari 2018. 16.00 WIB

Siti.2013.Sitiemiyawati.blogspot.com.Pendekatan pembelajaran biologi. 31 Januari 2018. 17.00 WIB

www.akademia.edu/jurnal.2015. Penerapan pembelajaran kontekstual  berbasis masalah.31 Januari 2018. 17.30 WIB

Muhyimayek.2014.Muhyimayek.blogspot.com. Makalah model pembelajaran kolaborasi. 31 Januari 2018. 19.00 WIB




8 komentar:

  1. Terima kasih atas ulasannya yang telah di share. menurut anda apakah model pembelajaran kontekstual ini efisien dalam segi penggunaan waktu dalam pelaksanaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut pendapat saya dalam penggunaan model pembelajaran kontekstual untuk pemanfaatan waktu yang efisien dilakukan dengan memanfaatkan tutor teman sebaya

      Hapus
  2. Assalamualaikum wr, wb
    Terima kasih atas ulasannya di atas. Saya sedikit ini bertanya masalah bagaimana kita menerapkan model pembelajaran kolaboratif yang membutuhkan waktu yang banyak dalam kelas supaya pembelajaran efektif.?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam wr.wb Pemanfaatan penggunaan pembelajaran kolaboratif dapat menjadi pembelajaran yang efektif jika dalam pemanfaatan waktu diatur oleh guru dan disepakati oleh siswa

      Hapus
  3. Ass...
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2.

    Menurut saya metode yang tepat untuk di gunakan adalah metode Complex Instruction (CI), karena metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan diantara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.

    Mungkin itu tambahan dari saya. Semoga bermanfaat....
    Terimakasih.

    BalasHapus
  4. menurut saya kedua model ini sulit di terapkan secara bersama, krn tujuan awal yg ingin dicapai oleh kedua model ini sudah berbeda, model pembelajaran ini dapat diterapkan satu persatu dgn menyesuaikan dgn KD yg ingin dicapai, terimkasih

    BalasHapus
  5. Menurut saya
    Langkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif cocok untuk di coba di terapkan dalam proses pembelajaran pada saat ini.

    BalasHapus