MODEL
DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS
Sasaran di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi yang digalakkan pemerintah di bidang pendidikan
adalah tercapainya kemampuan nasional dalam pemanfaatan pengembangan dan
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi peningkatan
kesejahteraan, kemajuan peradaban serta ketangguhan dan daya saing bangsa. Hal
tersebut mengisyaratkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus
ditunjang oleh kemampuan pemanfaatan pengembangan dan penunjangan berbagai
teknik produksi, teknologi, ilmu pengetahuan terapan dan ilmu pengetahuan dasar
secara seimbang, dinamis, dan efektif untuk mencapai kesejahteraan bangsa.
Agar pembelajaran dapat
dilakukan dibutuhkan pendekatan pembelajaran. Salah satunya adalah pembelajaran
dengan menggunakan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dan Pembelajaran kolaboratif
yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang bekesinambungan antara guru dan
siswa dalam proses pembelajaran
1.
Pendekatan Pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning)
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama
pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya
(Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan
(Modeling),dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
Dalam Contextual teaching and
learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan
siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak
mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami
bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep
yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa.
Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan
jaman.
Pendekatan kontekstual memungkinkan para
siswa untuk memperkuat mengembangkan dan menerapkan pengetaun akademik secara
keterampilan mereka pada berbagai lingkungan sekolah maupun luar lingkungan
sekolah. Menurut Clifford dan Wilson (2000), manfaat efektif dari pendekatan
kontekstual adalah menekankan pada penanganan masalah, memahami
kebutuhan pembelajaran dalam berbagai konteks, mengajar sisiwa menjadi mandiri,
mendasarkan pembelajaran pada konteks kehiduppan siswa yang beragam, medorong
siswa untuk belajar dari teman-temannya dalam kelompok, serta menerapkan
penilaian autentik.
Contextual Teaching and Learning (CTL)
merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk
memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan
mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa
memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk
mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
A. PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS
Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
• Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
• Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
• kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
• Ciptakan masyarakat belajar.
• Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
• Lakukan refleksi di akhir pertemuan
• Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
B. TUJUH KOMPONEN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
• Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
• Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
• kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
• Ciptakan masyarakat belajar.
• Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
• Lakukan refleksi di akhir pertemuan
• Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
B. TUJUH KOMPONEN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong, Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalm pross belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.
Landasan berpikir konstruktivisme agak
berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil
pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis ‘strategi memperoleh’ lebih
diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat
pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
a). Menjadikan pengetahuan bermakna
dan relevan bagi siswa,
b). Memberi kesenpatan siswa
menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
c). Menyadarkan siswa agar menerapkan
strategi mereka sendiri dalam belajar.
Dalam komponen Pembelajaran Kontekstual
(CTL). Hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a). Membangun pemahaman mereka
sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal
b). Pembelajaran harus dikemas
menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
c). Siswa belajar sedikit-demi
sedikit dari konteks terbatas.
d). Siswa mengkonstruk sendiri
pemahamannya.
2. Inquiry
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajran berbasis CTL.
Pengetahuan dan ketrempailan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus
merancang kegiatan yang merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan
menemukan, apapun materi yang diajarkanya.
Langkah-langkah kegiatan menemukan
(inkuiri):
a). Merumuskan
masalah (dalam mata pelajaran apapun)
b). Mengamati
atau melakukan observasi
c). Menganalisis
dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya
lainya
d). Mengkomunikasikan
atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang
lain.
e). Proses
perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
f). Siswa
belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
g). Siklus
yang terdiri dari mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori, baik
perorangan maupun kelompok.
h). Diawali
dengan pengamatan, lalu berkembang untuk memahami konsep/fenomena.
i). Mengembangkan
dan menggunakan keterampilan berpikir kritis.
3.
Questioning
Pengetahuan yang dimiliki seseorang bermula dari ‘bertanya’. Questioning (bertanya)
merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya daalm
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan
menilai kemampuan berpikir siswa.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif,
kegiatan bertanya berguna untuk:
a). Menggali
informasi, baik administrasi maupun akademis
b). Mengecek
pemahaman siswa
c). Membangkitkan
respon kepada siswa
d). Mengetahui
sejauh mana keingin tahuan siswa
e). Mengetahui
hal-hal yang sudah diketahui siswa
f). Memfokuskan
perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
g). Untuk
membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
h). Untuk
menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Bagi
Guru
· Kegiatan
guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
· Menuntun
siswa berpikir,
· Mengecek
pemahaman siswa,
· Membangkitkan
respon siswa.
Bagi
Siswa
· Bagi
siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
· Menggali
informasi,
· Menghubungkan
dengan pengetahuan yang dimiliki,
· Memecahkan masalah yang dihadapi.
4. Learning
Community
Konsep Learning Community menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar
diperoleh dari ‘Sharing’ antara teman, antar kelompok dan antara yang
tahu dan yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga
orang-orang yang ada di luar sana adalah anggota masyarakat belajar.
Praktek masyarakat belajar dalam
pembelajaran terwujud dalam:
a). Pembentukan kelompok kecil
b). Pembentukan kelompok besar
c). Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas
(tokoh olahragawan, dokter perawat, polisi, dsb)
d). Bekerja dengan kelas sederajat
e). Bekerja kelompok dengan kelas di
atasnya
f). Bekerja dengan masyarakat
g). Sekelompok orang yang terikat
dalam kegiatan belajar
h). Bekerjasama dengan orang lain
lebih baik daripada belajar sendiri
i). Tukar pengalaman
j). Berbagi ide
k). Berbicara dan berbagi pengalaman
dengan orang lain.
l). Ada kerjasama untuk
memecahkan masalah.
m). Hasil pembelajaran secara
kelompok akan lebih baik daripada belajar sendiri.
n). Ada fasilitator/guru yang
memandu proses belajar dalam kelompok.
5. Modeling
Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan,
mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan
apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual,
guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa
dan juga mendatangkan dari luar.
Pemodelan maksudnya dalam sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa di
tiru. Model itu bias berupa cara mengoperasikan sesuatu, atau guru memberi
contoh cara mengerjakan sesuatu. Dalam pembelajaran CTL guru bukan satu-satunya
model. Model dapat di rancang dengan melibatkan siswa.
Modeling atau Permodelan:
a). Proses penampilan suatu contoh
agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
b). Mengerjakan apa yang guru
inginkan agar siswa mengerjakannya
c). Membahasakan gagasan yang Anda
pikirkan.
d). Mendemonstrasikan bagaimana Anda
menginginkan para siswa untuk belajar.
e). Melakukan apa yang Anda inginkan
agar siswa melakukan.
f). Guru bukan satu-satunya contoh
bagi siswa.
g). Model berupa orang, benda,
perilaku, dll.
6. Reflection
Refleksi merupakan cara berpikir atau
respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa
yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru
menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan
langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
Refleksi cara berpikir tentang apa yang
baru di pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan
di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru di pelajarinya sebagai struktur
pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan
sebelumnya. Refleksi merupakn respon terhadap kejadian, aktivitas atau
pengetahuan yang baru diterima.
Guru atau orang dewasa membantu siswa
membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan
pengetahuan yang baru. Dengan begitu siswa akan memperoleh sesuatu yang berguna
bagi dirinya tentang apa yang dipelajarinya. Kunci dari semua itu adalah
bagaimana pengetahuan itu mengendap ke benak siswa.
a). Cara berpikir tentang apa yang
telah kita pelajari
b). Membuat jurnal, karya seni,
diskusi kelompok
c). Menelaah dan merespon terhadap
kejadian, aktivitas, dan pengalaman.
d). Mencatat apa yang telah kita
pelajari, bagaimana kita merasakan ide-ide baru.
7. Authentic
Assessment
Penilaian
adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai
perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran
perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa
siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada
penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan
terhadap proses maupun hasil
Assesment merupakan proses
pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar
siswa. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian, bukanlah untuk mencari
informasi tenteng belajar siswa. Pembelajaran yang benar sudah seharusnya
ditekankan oada uoaya memebantu siswa agar mampu mempelajari, bukan di tekankan
pada diperolehnya sebanyak-banyak mungkin informasi di akhir pembelajaran. Data
yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang diperoleh siswa pada
saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik penilaian yang sebenarnya:
a). Dilaksanakan selama dan sesudah
proses pembelajaran berlangsung
b). Bisa digunakan untuk formatif
maupun sumatif
c). Yang di ukur keterampilan dan
performansi, bukan mengingat fakta
d). Berkesinambungan
e). Terintegrasi
f). Dapat digunakan sebagai feed
back
Authentic Assessment atau Penilaian
sebenarnya, yaitu :
a). Mengukur pengetahuan dan
keterampilan siswa
b). Penilaian produk (kinerja)
c). Tugas-tugas yang relevan dan
kontekstual
d). Menilai dengan berbagai cara dan
dari berbagai sumber.
e). Mengukur pengetahuan dan
keterampilan siswa.
f). Mempersyaratkan penerapan
pengetahuan dan keterampilan.
Pada pembelajaran kelas kontekstual guru
dituntut untuk menghidupkan kelas dengan cara mengembangkan pemikiran anak agar
lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi
sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
C. APLIKASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI
Dalam
konteks lain pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah
pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah
pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu
pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan
berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam
pembelajaran seumur hidup. Dengan demikian pembelajaran kontekstual dapat
digunakan jika kita ingin menjadikan Meaningfull Learning, pembelaaran penuh
makna bagi peserta didik kita
Biologi merupakan cabang Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA). Dalam mempelajari Biologi hendaknya menggunakan
strategi dan metode yang tepat agar siswa mampu memahami konsep-konsep Biologi.
Dalam pembelajaran Biologi hendaknya dilengkapi dengan sarana dan prasarana
penunjang guru agar memantapkan berbagai konsep IPA (Biologi) anak didik. Mata
pelajaran Biologi dapat membosankan dan menjenuhkan karena lebih banyak
menggunakan istilah-istilah Latin yang kurang dipahami dan dimengerti oleh
siswa. Dewasa ini muncul berbagai pendekatan pembelajaran sebagai alternatif
dalam pemecahan masalah kesulitan belajar.
Pembelajaran
kontekstual (CTL) dijadikan alternatif yang dapat memberdayakan siswa.
Pembelajaran dengan menerapkan strategi kontekstual kelas dapat berfungsi
sebagai tempat mendiskusikan hasil penemuan di lapangan. Pendekatan kontekstual
(CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Proses Pembelajaran
kontekstual (CTL) dapat berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi
dan proses pembelajaran ini lebih dipentingkan dari pada hasil.
Pada
pelaksanaaan di lapangan guru dituntut kreatif untuk memilih pembelajaran
yang dapat lebih bermanfaat bagi siswa untuk mepenarapnn sepanjang hidupnya.
Sebagai contoh riil dalam biologi, misalnya dalam pembelajaran sistem respirasi
(pernafasan) yang biasanya digunakan menggunakan respirometer dengan belalang
sebagai organisme yang diuji, ini memang dapat memenuhi tujuan yang hendak
dicapai tentang gas/udara yang terlibat dalam resprasi, namun akan lebih
terkait dengan pada pribadi siswa itu jika kita memilih pembuktian ini
dengan menggunakan udara ekspirasi yang dihembuskan siswa sendiri
Alat dan
bahan untuk percobaan ini pun sangat sederhana, dapat menggunakan larutan air
kapur yang ditampung pada botol bekas kemasan air mineral, plus sedotan untuk
mengalirkan udara pernafasan yang dihembuskan lewat mulut. Prisnsip dari
percobaan ini adalah reaksi pengendapan kalsium hidroksida (pada air kapur)
dengan karbon dioksida dari udara ekspirasi, membentuk endapaan kalsium
karbonat yang membentuk endapan putih di dasar botol. Jika ada fenol ftalien,
(pp), dapat digunakan sebagai indikator, yang dengan air kapur akan berwarna
merah, dan seiring dengan dihembuskannya karbondioksida melalui sedotan
minuman ke dalam larutan, kalsium hidroksida akan berubah menjadi kalsium
karbonat dan warna larutan berangsur menjadi jernih sendiri
Contoh lain
masih dari sistem respirasi, misalnya mendeskripsikan jenis udara respirasi
dapat dilakukan dengan meniup balon (enjoy learning), sekuat kuatnya setelah
menarik nafas se dalam dalamnya yang dikenal sebagai kapasitas vital paru.
Aktivitas ini akan menyenangkan dan lebih bermakna ketika kita lanjutkan dengan
melakukan skoring dengan jalan mengurutkan besarnya balon dari besar ke kecil
dengan skor yang tertentu, sebagai misal ada 10 orang, maka yaang paling besar
dengan skor 10 dan yang paling kecil 1
Penskoran ini menjadi
lebih bermakna lagi jika kita lakukan perbandingan/komparasi misalnya kelompok
gemuk dengan yang kurus, perokok dengan bukan perokok, aktif olah raga dengan
yang malas berolah raga dan sebagaainya. Aktivitas ini akan memberikan makna
yang dapat diambil hikmahnya bagi kehidupaan peserta didik. Hasil komparasi
yang CVP perokok dan bukan perokok misalnya, dapat dijadikan kampanye anti
rokok. Jika hasilnya tidak sesuai dengan dasar teori yang ada, maka peserta
didik dilatih untuk memberikan kemungkinan-kemungkinannya
D.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
1). Kelebihan CTL (Contextual
Teaching and Learning)
a). Pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam
memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b). Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena
metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa
dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
2). Kelemahan CTL (Contextual
Teaching and Learning)
a). Guru
lebih intensif dalam membimbing karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi
berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan
yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan
keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah
sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru
adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap
perkembangannya.
b). Guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide
– ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan
strategi – strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini
tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa
agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
2. Pendekatan Pembelajaran kolaboratif
Selain dari sudut pandang Pembelajaran Kontekstual, ada juga
dari sudut pandang pembelajaran Kolaboratif. Di mana dalam pembelajaran ini
juga hampir sama dengan pembelajaran Kontekstual tetapi pembelajaran ini lebih
menekankan pada siswanya sendiri untuk menilai proses pembelajarannya sendiri
dan dapat mengembangkan pembelajaran bersama. Dari pengertian umum tersebut
dapat direkonstruksi unsur-unsur pembelajaran kolaboratif sebagai berikut:
suatu filsafat pengajaran, bukan serangkaian teknik untuk mengurangi tugas guru
dan mengalihkan tugas-tugasnya kepada para siswa. Hal terakhir ini perlu
ditekankan karena mungkin begitulah kesan banyak orang tentang pembelajaran
kolaboratif.
A. PENGERTIAN
PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Pembelajaran kolaboratif dapat didefinisikan sebagai filsafat
pembelajaran yang memudahkan para siswa bekerjasama, saling membina, belajar
dan berubah bersama, serta maju bersama pula. Inilah filsafat yang dibutuhkan
dunia global saat ini. Bila orang-orang yang berbeda dapat belajar untuk
bekerjasama di dalam kelas, di kemudian hari mereka lebih dapat diharapkan
untuk menjadi warganegara yang lebih baik bagi bangsa dan negaranya, bahkan
bagi seluruh dunia. Akan lebih mudah bagi mereka untuk berinteraksi secara
positif dengan orang-orang yang berbeda pola pikirnya, bukan hanya dalam skala
lokal, melainkan juga dalam skala nasional bahkan mondial.
Model pembelajaran kolaboratif
merupakan salah satu model “Student-Centered Learning” (SLC). Pada model ini, peserta
belajar dituntut untuk berperan secara aktif dalam bentuk belajar bersama atau
berkelompok.
Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative learning” mengacu
pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi
tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan
bersama. Pengertian kolaborasi sendiri
yaitu:
1. Keohane berpendapat bahwa
kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam
bagian satu tim, dan bercampur dalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
2. Patel berpendapat bahwa
kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam mencoba
untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and rewards.
3. Duin, Jorn, DeBower, dan Johnson mendefinisikan
“collaboration” sebagai suatu proses di mana dua orang atau lebih merencanakan,
mengimplementasikan, dan mengevaluasi kegiatan bersama.
Dari pengertian kolaborasi yang
diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian
pembelajaran kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa
dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil ke arah
satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan
yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang
positif untuk mencapai kesuksesan. Pendapat lain
mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai filsafat pembelajaran yang
memudahkan para siswa bekerja sama, saling membina, belajar dan berubah
bersama, serta maju bersama pula. Dalam situsWikipedia, collaborative
learning atau pembelajaran kolaboratif diartikan sebagaisituasi
dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar
sesuatu secara bersama-sama.
Schrage menyatakan
pembelajaran kolaboratif melebihi aktivitas bekerjasama (kooperatif)
kerana ia melibatkan kerjasama hasil penemuan dan hasil yang didapatkan
daripada sekedar pembelajaran baru. Menurut Jonassen, seperti
halnya pembelajaran kooperatif, pembelajaran kolaboratif juga dapat membantu
siswa membina pengetahuan yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan
pembelajaran secara individu. Inti pembelajaran kolaboratif adalah bahwa
para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Antaranggota kelompok saling
belajar dan membelajarkan untuk mencapai tujuan bersama. Keberhasilan kelompok
adalah keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.
B. Lima tahapan menggembangkan collaborative
learning
1. Engagement
Pada tahap ini,
pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan, minat, bakat dan kecerdasan
yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, siswa dikelompokkan yang di
dalamnya terdapat siswa terpandai, siswa sedang, dan siswa yang rendah
prestasinya.
2. Exploration
Setelah dilakukan
pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas, misalnya dengan memberi
permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok tersebut. Dengan masalah yang
diperoleh, semua anggota kelompok harus berusaha untuk menyumbangkan kemampuan
berupa ilmu, pendapat ataupun gagasannya.
3. Transformation
Dari perbedaan
kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu setiap anggota saling
bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa yang
semula mempunyai prestasi rendah, lama kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya
karena adanya proses transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi
kepada siswa yang prestasinya rendah.
4. Presentation
Setelah selesai
melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap kelompok mempresentasikan
hasil diskusinya. Pada saat salah satu kelompok melakukan presentasi, maka
kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut,
dan menanggapi.
5. Reflection
Setelah selesai
melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok. Kelompok
yang melakukan presentasi akan menerima pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan
dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota
kelompok harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
Brandt (2004) menekankan adanya lima
elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat
sukses, yaitu :
1.
Possitive
interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus
percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama dan mereka peduli pada
belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa
ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya
dengan tanggung jawab menguasai bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota
kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain
juga tidak sukses.
2. Verbal,
face to face interaction (interaksi langsung antarsiswa)
Yaitu hasil belajar
yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang
didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling berhadapan dan
saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan,
berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk
mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3. Individual
accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok
harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar dalam suatu
kelompok siswa dapat
menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap siswa dituntut harus
menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota
kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung
jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
4. Social
skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan
sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut mempunyai
keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang
dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses
belajar kolaboratif. Siswa harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi,
kepercayaan, membangun dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5. Group
processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus
mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan secara bersama dan bagaimana
mereka dapat melakukan secara lebih baik. Siswa memproses keefektifan kelompok
belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar
dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat
dilanjutkan atau yang perlu diubah.
C.
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1. The
two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang
ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang
disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2. The
small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara
penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative
pemecahan masalah.
3. Small
or large group (recitation)
Yaitu suatu metode
mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada
pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh
pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau
di tempat lain.
D. Macam-Macam Pembelajaran Kolaboratif
Ada
banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli
maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John
Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan
perhatian secara luas, yaitu :
1. Learning
Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas
beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok
bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan
mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan
pada hasil kerja kelompok.
2. Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya
sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain
sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah
nilai yang diperoleh kelompok.
3. Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk
merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang
dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang
akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum
kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4. Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut
kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan
berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun
dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian
dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan,
hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan
pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang
dipilihnya.
5. Jigsaw Procedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota
suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar
setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan
materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6. Student Team Achievement Divisions
(STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi
beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar
dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan
berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan
kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian
didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7. Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan
pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang
sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan
ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya
digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan
di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses
dan hasil kerja kelompok.
8. Team Accelerated Instruction
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi
antara pembelajaran kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara
bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan
sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam
kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa
mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat
menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain
pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran
soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9. Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam
pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa
(berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee.Tutor mengajukan
pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee.
Bila jawaban tuteebenar,
ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang
waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling
berpasangan itu berganti peran.
10.
Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC)
Model
pembelajaran ini mirip dengan Team Accelerated Instruction. Sesuai
namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan
tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca,
menulis, dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam
kelompoknya.
E. Langkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif
Dalam menerapkan pembelajaran
kolaboratif, guru harus memperhatikan
prinsip-prinsip pembelajaran kolaboratif sebagai berikut:
1. Mengajar keterampilan kerja sama,
mempraktikkan, dan balikan diberikan dalam hal seberapa baik
keterampilan-keterampilan digunakan.
2. Kegiatan kelas ditingkatkan untuk
melaksanakan kelompok yang kohesif.
3. Setiap individu diberi tanggung jawab
untuk kegiatan belajar dan perilaku masing-masing.
Berikut
ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif :
1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar
dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan
menulis.
3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi
mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan
jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan
sendiri.
4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil
pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara
lengkap.
5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak
(selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk
melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas,
siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi
tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30
menit.
6. Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif
melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan
yang akan dikumpulan.
7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang
telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai,
dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
F. Pembelajaran
Kolaboratif di Kelas
Salah satu contoh strategi pembelajaran
kolaboratif adalah card sort. Strategi ini digunakan untuk
mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang obyek, atau mengulangi
informasi. Strategi ini menguras banyak energi, sehingga tidak disarankan
digunakan ketika siswa dalam kondisi letih. Prosedurnya adalah sebagai
berikut:
1. Berilah siswa kartu indeks yang memberikan
informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2. Mintalah siswa untuk mencari temannya
dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
3. Biarkan siswa yang kartu katagorinya
sama menyajikan sendiri kepada yang lainnya.
4. Selagi masing-masing katagori
dipresentasikan, buatlah point dari pembelajaran tersebut yang dirasakan
penting.
G. Kelebihan dan Kekurangan
Pembelajaran Kolaboratif
1)
Kelebihan
a. Siswa belajar bermusyawarah
b. Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c. Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d. Dapat memupuk rasa kerja sama
e. Adanya persaingan yang sehat
2)
Kelemahan
a. Pendapat serta pertanyaan siswa dapat
menyimpang dari pokok persoalan.
b. Membutuhkan waktu cukup banyak.
c. Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin
menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu
tergantung pada orang lain.
d. Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar
dicapai
Dari artikel diatas ada beberapa pertanyaan yang mau saya ajukan yaitu:
1.Pada pembelajaran kontekstual apakah termasuk kedalam pembelajaran bermakna dalam menerapkan suatu konsep pada peserta didik?
2. Pada pembelajaran kolaboratif metode yang paling tepat untuk digunakan dalam pembelajaran biologi adalah?
3. Bagaimana menerapkan gabungan pendekatan kontekstual dengan pendekatan kolaboratif?
Dari artikel diatas ada beberapa pertanyaan yang mau saya ajukan yaitu:
1.Pada pembelajaran kontekstual apakah termasuk kedalam pembelajaran bermakna dalam menerapkan suatu konsep pada peserta didik?
2. Pada pembelajaran kolaboratif metode yang paling tepat untuk digunakan dalam pembelajaran biologi adalah?
3. Bagaimana menerapkan gabungan pendekatan kontekstual dengan pendekatan kolaboratif?
DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan.2011.http;//kurniawanbudi04.wordpress.com.Model
Kolaborasi.01 Februari 2018. 09.00 WIB
Khairul.2010.khairulanwar 303.blogspot.com.Kuliah:
Pembelajaran Kolaboratif.01 Februari 2018. 10.00 WIB
http://www.kompasiana.com.
2014.Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Biologi. 31 Januari 2018. 15.00
WIB
Elfisuir.2010.Elfisuir.blogspot.com.Pembelajaran
Kontekstual Biologi. 31 Januari 2018. 16.00 WIB
Siti.2013.Sitiemiyawati.blogspot.com.Pendekatan
pembelajaran biologi. 31 Januari 2018. 17.00 WIB
www.akademia.edu/jurnal.2015.
Penerapan pembelajaran kontekstual
berbasis masalah.31 Januari 2018. 17.30 WIB
Muhyimayek.2014.Muhyimayek.blogspot.com.
Makalah model pembelajaran kolaborasi. 31 Januari 2018. 19.00 WIB
Terima kasih atas ulasannya yang telah di share. menurut anda apakah model pembelajaran kontekstual ini efisien dalam segi penggunaan waktu dalam pelaksanaannya
BalasHapusMenurut pendapat saya dalam penggunaan model pembelajaran kontekstual untuk pemanfaatan waktu yang efisien dilakukan dengan memanfaatkan tutor teman sebaya
HapusAssalamualaikum wr, wb
BalasHapusTerima kasih atas ulasannya di atas. Saya sedikit ini bertanya masalah bagaimana kita menerapkan model pembelajaran kolaboratif yang membutuhkan waktu yang banyak dalam kelas supaya pembelajaran efektif.?
Waalaikumsalam wr.wb Pemanfaatan penggunaan pembelajaran kolaboratif dapat menjadi pembelajaran yang efektif jika dalam pemanfaatan waktu diatur oleh guru dan disepakati oleh siswa
HapusAss...
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2.
Menurut saya metode yang tepat untuk di gunakan adalah metode Complex Instruction (CI), karena metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan diantara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
Mungkin itu tambahan dari saya. Semoga bermanfaat....
Terimakasih.
Terimakasih untuk ulasannya sangat bermanfaat
Hapusmenurut saya kedua model ini sulit di terapkan secara bersama, krn tujuan awal yg ingin dicapai oleh kedua model ini sudah berbeda, model pembelajaran ini dapat diterapkan satu persatu dgn menyesuaikan dgn KD yg ingin dicapai, terimkasih
BalasHapusMenurut saya
BalasHapusLangkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif cocok untuk di coba di terapkan dalam proses pembelajaran pada saat ini.