Rabu, 07 Februari 2018

Pembelajaran sains abad 21

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21

Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, kini memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013.
Saat ini kita telah memasuki abad baru yaitu abad 21, diamana rentang waktunya antara tahun 2001-2100. Abad 21 ini telah banyak berubah akibat adanya pengaruh globalisai yang mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk didalamnya aspek pendidikan. Pada abad 21, mata pelajaran utama perlu dibingkai oleh kompetensi pembelajaran dan inovasi karena belajar tidak hanya terbatas di sekolah saja tetapi dari banyak sumber lain. Karena itu diperlukan dukungan kompetensi pemanfaatan informasi, media, dan TIK. Sedangkan kompetensi inovasi memerlukan dukungan proses pembelajaran yang dapat memperkuat  kreativitas melalui kemampuan berfikir kritis
Dalam menghadapi globalisasi abad 21 maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan Indonesia masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan penting dalam pengembangan IPTEK. IPA (natural sains) adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan mempergunakan pengetahuan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013. Menyongsong pemberlakuan kurikulum 2013 semakin mempertegas peran pendidikan nasional. Sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal itu juga dijadikan acuan dalam pembelajaran IPA.
Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikansoft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan.
Pengembangan kurikulum 2013 dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 ini, mata pelajaran IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama, mata pelajaran IPA dikemas secara terintegrasi pada keilmuan IPA, terintegrasi dengan pembentukan karakter. Perubahan pendidikan dan mindset para guru harus didasarkan pada kecakapan/ketrampilan apa saja yang nantinya dibutuhkan oleh para siswa di 21st century ini untuk dapat mencapai partisipasi penuh di masyarakat
            Kurikulum 2013 diharapkan dapat mengimplementasikan pembelajaran abad 21 yang mencerminkan 4 hal,yaitu :
1.      Critical thinking dan problem solving
2.      Creativity and innovation
3.      Communication
4.      Collaboration
21st Century learning:
      To know
      To do
      To be
      To live together
Dalam pembelajaran abad 21 peserta didik dituntut untuk dapat:
1.      Berpikir Kritis (Critical thinking)
  • merupakan seni berpikir (is the art of thinking)
  • tentang berpikir (about thinking )
  • pada saat berpikir (while thinking)
  • dengan maksud untuk (In order to make)
§  dapat berpikir lebih baik (thinking better)
Berpikir kritis adalah cara berpikir tentang hal apa saja  mengenai materi, atau masalah yang diinginkan oleh pemikir untuk terjadinya perbaikan kualitas pemikirannya dengan secara terampil menganalisis, menguji, dan merekonstruksi.
Berpikir kritis bersifat mandiri, berdisiplin diri, dimonitor sendiri, proses berpikir memperbaiki sendiri. Hal itu dipandang sebagai aset penting terstandar dari cara kerja dan cara berpikir dalam praktek. Hal itu memerlukan komunikasi efektif dan pemecahan masalah dan juga komitmen untuk mengatasi sikap egosentris dan sosiosentris bawaan.
2.      Berpikir intuitif (Intuitive Thinking)
Berpikir intuitif merupakan bagian dari proses penemuan/penyingkapan, yang serupa dengan keterlibatan khas ilmuwan dlm permasalahan, memainkan gagasan, dan memahamai hubungan-hubungan sehingga mampu melakukan penemuan/penyingkapan atai menambahn kekayaan pengetahuannya

A.    Manajemen Pendidikan Abad 21

Pembelajaran IPA di era abad 21 sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir kritis (critical thingking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi.
Menurut Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan  ke dalam 4 prinsip, yaitu:  (1) instruction should be student-centered; (2)education should be collaborative;  (3) learning should have context; dan (4) schools should be integrated with society.
Keempat prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1.  Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya.  Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.


2. Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3. Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4. Schools should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang bertanggung jawab

B.     Bentuk Pembelajaran Digital Abad 21.
Dunia pendidikan secara dinamis akan selalu mengalami perubahan yang berimbas pada tuntutan perubahan pada pembelajaran dan sumber daya manusia yang terlibat didalamnya. Pembelajaran abad 21 sendiri identik dengan kemajuan teknologinya, dimana teknologi menjadi bagian yang integral dengan kehidupan pebelajar. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi prioritas dalam daftar kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pembelajaran abad 21 (21st Century Literacy Summit,2010).
Penggunaan teknologi ini menjadi sangat penting dan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran di abad 21. tetapi banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran di abad 21 ini saya tidak bisa juga mengatakan benar atau tidak tentang salah satunya yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran adalah guru.
Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi guru di era pembelajaran abad ke-21 ini juga semakin beragam. Salah satunya kemajuan teknologi.
seorang guru dituntut mengerti dan menguasai teknologi, khususnya komputer dan internet, sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Dimana internet merupakan produk informasi teknologi yang sangat luar biasa perkembangannya dewasa ini, arus informasi yang disediakan di internet sangat beragam sehingga sangat membantu para guru dalam proses belajar dan pembelajaran. Manfaat yang bisa didapatkan misalnya guru dapat meng-update informasi mengenai kurikulum dan bahan ajar yang baru yang berupa power point maupun animasi pembelajaran yang pastinya membantu proses belajar mengajar
Meskipun pembelajaran abad 21 membuat pendidikan nampak menuju arah yang sama, namun keahlian abad 21 bersifat kompleks dan bervariasi antar negara ataupun antar daerah, kecuali satu keahlian, literasi teknologi informasi dan komunikasi atau juga disebut literasi dijital. Mendukung literasi tersebut, dikenal pula softskills yang termasuk dalam dua kategori, cara berpikir dan cara bekerja. Cara berpikir meliputi kreativitas, berfikir kritis, dan pemecahan masalah. Cara bekerja meliputi kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Kedua kategori softskills ini amat dipengaruhi oleh budaya lokal sehingga bersifat unik dan ditentukan oleh masyarakat setempat.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin menanyakan tentang:
1.      Bagaimana penerapan pembelajaran sains abad 21 pada kurikulum 2013?
2.      Bagaimana menerapkan kemajuan teknologi pada daerah tertinggal yang minim sarana dan prasarana untuk menggunakan IPTEK?
3.      Apakah pembelajaran sains saat ini sudah sesuai dengan tuntutan abad 21?

DAFTAR PUSTAKA

Rahmat dan Haris.2015. Nurmiariserihatin.blogspot.com.Pembelajaran sains abad 21. 05 Februari 2018. 15.00 WIB

Saprizalkima. 2017. Saprizalkima.blogspot.com. Desain pembelajaran untuk Ilmu Pendidikan di Abad 21. 06 Februari 2018. 14.00 WIB

Ainamulyana. 2017. http://ainamulyana.blogspot.com. Pembelajaran abad 21 dan kurikulum 2013. 06 Februari 2018. 15.00 WIB

Apriyanto. 2017.Candraapriyanto94.blogspot.com. Desain pembelajaran untuk Ilmu Pendidikan di Abad 21. 07 Februari 2018. 16.00 WIB


Havizah. 2017 Havizhah.blogspot.com. Pengembangan Kurikulum dan Desain Pembelajaran abad 21. 07 Februari 2018. 16.00 WIB

7 komentar:

  1. Selalu memanfaatkan teknologi dan media-media pembelajaran lainnya secara optimal, Berfikir kreatif dalam diri setiap guru untuk menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dan informasi. Karna syarat untuk mengakses internet hanya hp, smartphone, komputer atau laptop serta jaringan yang memadai. Jika melihat kondisi terkini maka kita dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik dikarnakan semua siswa bisa dikatakan memiliki hp, smartphone, komputer atau laptop.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  2. Apakah pembelajaran sains saat ini sudah sesuai dengan tuntutan abad 21? saya rasa sudah, karena dalam proses pembelajaran dari tingkat SD sampai kepeguruan tinggi sudah menggunakan teknologi yang canggih dalam proses pembelajarannya semuanya serba online sudah jarang menggunakan kertas dan pena, ini semua menunjukkan proses pembelajaran di abad 21.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum, terima kasih atas uraian yang diberikan. Menanggapi pertanyaan yang pertama yaiyu penerapan pembelajaran sains abad 21 pada K13. Menurut saya pemberlakuan kurikulum 2013 semakin mempertegas peran Pendidikan Nasional. Sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pendidikan yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Makna manusia yang berkualitas, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal itu juga dijadikan acuan dalam pembelajaran IPA. terima kasih

    BalasHapus
  4. Saya terlrtarik tentang pembelajaran sains abad 21. Menurut saya konsep sudah sesuai, namun dalam pelaksanaanya yg saya rasa kurangenjanhkau, artinya diaini pemerataan pemnelajaran sains hatus diperhatikan..supaya koknsep dan pelaksanaanya nerbamding lurus seiring seirama...

    BalasHapus
  5. Menanggapi pertanyaan nomor 3. Apakah pembelajaran sains saat ini sudah sesuai dengan tuntutan abad 21?
    Menurut saya sudah. Secara konsep sudah sesuai, namun dalam pelaksanaannya masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi, baik dari guru, siswa serta berbagai pihak yang berwenang terhadap pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

    BalasHapus
  6. Saya akan menanggapi pertanyaan no.3 yaitu:Apakah pembelajaran sains saat ini sudah sesuai dengan tuntutan abad 21?

    -menurut saya, sudah sesuai. buktinya sekarang ini lagi penerepan kurikulum 2013 sudah mengikuti prinsip yang ada di pembelajaran abad 21.hanya saja dalam pelaksanaannya yang masih kurang maksimal,masih ada beberapa wilayah yang belum maksimal menerapkan k.13 karena terkendala dengan sarana dan prasarana. Seiring waktu, terus terjadi perbaikan agar pendidikan Indonesia di seluruh wilayah juga bisa mengikuti pembelajaran abad 21.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  7. Sharing ibu untuk pertanyaan nomor 2, Sekarang ini, pengguanaan internet pada masyarakat pedesaan sudah mulai menggeliat. Dapat dilihat dari banyak tersedianya warung internet di desa-desa yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk memeproleh fasilitas internet. Namun penggunaan fasilitas internet di desa memiliki keterbatasan. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya infrastuktur telekomunikasi di berbagai daerah dan desa di Indonesia. Tapi semua itu telah masuk pada tahap pengembangan lebih lanjut oleh pemrintah dan instansi terkaitvagar masyarakat indonesia lebih melek informasi dan teknologi, terimakasih

    BalasHapus